Seperti biasa, setiap malam dan kesepian mendera, Raka selalu berjalan kaki menyusuri malam. Malam itu Raka sengaja berjalan kaki menuju kawasan air mancur, tempat nongkrong anak muda di Bogor selain Tugu Kujang.
Raka menutupi dirinya dengan jaket hitam tebal pemberian Tunggal, temannya. Ketebalan jaketnya cukup membuat tubuh Raka yang kurus aman dari gigitan dinginnya angin malam. Di kuping Raka terpasang earphone, sambil bersenandung pelan Raka berjalan menyusuri malam.
Entah sudah berapa jauh Raka berjalan, jarak dari rumahnya menuju air mancur lumayan jauh, tapi tidak sedikit pun Raka merasa lelah, ia malah merasa lega, dengan berjalan kaki malam-malam seperti itu bisa membuatnya sejenak melupakan semua masalah dalam hidupnya, dengan berjalan kaki pula Raka bisa merasakan ketentraman dan rasa nyaman yang tidak pernah ia rasakan di waktu lain selain malam.
Angin malam laksana senandung bidadari yang mendayu-dayu, begitu indah, begitu tentram.
Raka lanjut berjalan meskipun ia sudah sampai di tempat tujuannya, air mancur. Dia serasa bebas, ingin rasanya tidak pernah ada pagi, siang dan sore, andai saja hanya ada malam di bumi, tapi mana mungkin, tanpa matahari maka tidak akan pernah ada kehidupan di bumi, bagaimana tumbuh-tumbuhan berfotosintesis tanapa matahari, lalu jika tumbuhan tidak tumbuh bagaimana manusia mengisi kebutuhan mereka.
Bumi tanpa siang, bumi tanpa matahari sama halnya seperti manusia tanpa jiwa, sama halnya seperti wanita tanpa rahim, tak berguna. Tapi Raka hanya ingin bisa merasakan ketentraman yang bisa ia rasakan setiap malam, ia hanya ingin lepas dari semua masalah, karena malam berhasil menghapus semua masalah, lalu apa salah Raka selalu mengharapkan hadirnya malam?
Raka berjalan tanpa memerhatikan arah, yang dia tahu hanyalah kemana kakinya akan melangkah, Raka tetap menundukan kepalanya, enggan rasanya menatap jalanan, lebih-lebih jalanan yang ia lalui saat ini. Di jalan ini seseorang yang Raka cintai pergi, di ujung jalan ini seseorang yang Raka cintai pernah melambaikan tangan dan mengucap perpisahan.
Seketika Raka menyesal, mengapa ia melalui jalan ini, jalanan ini seakan membuka kembali luka lama, luka yang dulu seakan menganga dalam hatinya dan dengan perlahan bisa Raka tutupi, kini malah terbuka kembali, kembali menganga.
Raka sedikit mempercepat langkahnya, karena langit mulai menumpahkan gerimis, seakan mengerti sedih yang Raka rasakan langit pun ikut menangis. Raka memutuskan berteduh di halte terbengkalai yang terletak tepat di depan Gedung Wanita.
Bukan Cuma Raka yang berteduh disitu, ada dua laki-laki dewasa yang tak hentinya menggumam dan marah-marah karena musti terjebak hujan, ada seorang gadis cantik yang berdiri di ujung halte sambil berkali-kali menatap jam tangannya, ada juga anak kecil pengamen jalanan yang sedang sibuk menghitung uang hasil mengamennya hari ini.
Sekilas Raka tersenyum, pengamen itu seakan mengingatkan masa lalu dirinya, dulu pun dia sama dengan pengamen kecil itu, rela berpanas-panasan dan hujan-hujanan demi menumpang angkot, duduk di pintu sambil memukul botol yang sengaja ia isi beras hanya sekedar untuk menghasilkan music pengiring untuk suara nyanyiannya yang sumbang.
Buru-buru Raka merogoh saku celananya, mencari uang receh kembalian membeli rokok, Raka memberikan uang receh itu pada si pengamen.
“makasih, a.” ucap si pengamen, yang malah langsung berdiri sambil sibuk mencari kecrekan
“mau kemana de? Kan masih hujan.” Tanya Raka khawatir, pengamen itu malah tersenyum, Raka membalas tersenyum
“ kan tadi aa kasih saya uang, jadi sekarang saya mau nyanyi buat aa.” Jawab pengamen itu polos
“ ngga usah, ngga usah, mending kamu istirahat aja!” Raka menolak, anak kecil itu malah tersenyum
“kenapa ngga usah a, takut kuping aa sakit yah denger suara saya?”
“bukan, bukan gitu. Maksud aa, aa ikhlas kok kasih uang itu ke kamu, mending kamu simpen suara kamu buat besok. Kan besok kamu masih ngamen.” Raka mencoba menjelaskan, merangkai ucapannya agar terdengar sesopan mungkin.
“ ngga a, saya harus nyanyi, saya tadi udah dapet hak saya nah makanya sekarang saya harus lakuin kewajiban saya.”
Rak abergeming, terdiam, ucapan pengamen itu seakan menampar wajahnya keras, Raka sadar selama ini ia selalu meminta hak nya tanpa melakukan kewajibannya, Raka selalu menuntut hak pada orangtua angkatnya padahal ia tidak benar-benar melakukan kewajibannya s ebagai anak.
“boleh saya nyanyi a, kalo aa ngga mau denger aa bisa pasang lagi itu.” Pengamen itu menunjuk earphone Raka yang menjuntai karena sengaja Raka lepaskan.
“ tapi saya bakalan tetep nyanyi, saya ngga mau curang.” Akhirnya Raka mengalah, ia mempersilakan pengamen itu bernyanyi.
Selama pengamen itu bernyanyi, Raka terdiam, ada ketulusan yang ikut keluar dari lantunan suara anak itu, dia tulus, dia jujur padahal hidupnya pasti berat, anak itu tahu yang namanya kewajiban padahal belum tentu orang yang lebih dewasa darinya mengerti, bilang saja para anggota DPR atau para wakil Rakyat, mereka selalu menuntut hak mereka bahkan kebanyakan mereka malah merasa kekurangan, akhirnya nyolong sana-nyolong sini, belum tentu mereka mengerjakan kewajiban mereka dengan baik, atau malah mereka sibuk mencari dana tambahan untuk kantung mereka sendiri.
Sibuk membuncitkan perut dan dompet mereka padahal tanpa mereka sadari rakyat yang mereka wakili berteriak-teriak meminta tolong, kelaparan, lihat saja pengamen itu, dia masih kecil seharusnya dia sedang belajar di rumah saat ini, bukannya malah mencari uang. Pengamen itu selesai bernyanyi, Raka tersenyum dan anak kecil itu membalas senyuman Raka.
Di halte dan dalam Perjalan malam itu berhasil membuka mata Raka, membuka pikiran Raka akan tanggungjawab nya, tanggungjawabnya sebagai anak dan tanggungjawabnya sebagai hamba tuhan.
hahaha....kesian galau mulu...
BalasHapuseh,happy birthday to you yah...thu kan ada yg ngucapin.
anyway, cerpennya sederhana,,en tipikal kmu yg menyajikan sedikit moment menjadi cerita...
good work....
dan, ga usah galau mencari atau berarap cinta. suatu saat dia akan datang saat kau tidak mencarinya. it just...flick...like that....
keep strong brutha...